Kunjungan ke Panti Asuhan
YAYASAN AMALIA
Namanya Gadis. Batita usia 2 tahunan yang montok, lucu dan menggemaskan. Waktu kami mengunjungi kamar tempat ia dan teman-temannya biasa tidur, Gadis memang terlihat paling menonjol. Ia sangat lincah dan murah senyum, tidak seperti teman-temannya yang masih kelihatan ragu-ragu dan sulit tersenyum saat Tia mengomando mereka untuk berfoto. Ia bahkan memanggil Tia dengan sebutan Mama. Dan menurut para pengasuh yang ada di Yayasan Amalia, Gadis tidak bisa diam sehingga untuk tidur pun, ia malah ditaruh di boks bayi supaya tidak lari kesana-kemari.
Yayasan Amalia adalah tempat yang pertama kami kunjungi. Terletak di daerah Kebon Bawang, Jakarta Utara, awalnya tempat ini merupakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Mereka rata-rata usia belasan tahun yang oleh Bruder Stani Suhut, pemilik yayasan, disekolahkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun kenakalan mereka yang membuat program singgah ini tidak efektif. Akhirnya, Yayasan Amalia kini hanya mengasuh balita yang dititipkan oleh orang-tua mereka. Ya, sebenarnya mereka bukanlah yatim-piatu. Menurut salah satu pengurus disana, sebagian dari mereka dititipkan karena orang-tuanya bercerai dan sang ibu atau salah satu orang-tuanya tidak sanggup menghidupi si buah hati.
Sebelum masuk ke Yayasan Amalia, kami sempat ragu. Informasi yang kami terima dari warga sekitar, yayasan itu tempat pengobatan alternatif. Wah, nyasar dong! Apalagi kami memang melihat beberapa lansia sedang antri duduk di teras. Namun penjelasan dari seorang pengasuh disana membuat kami mengerti. Bruder Stani Suhut, memang membuka layanan pengobatan alternatif untuk masyarakat disekitarnya. Hasil dari pengobatan itu digunakan untuk menghidupi balita asuhannya yang berjumlah 9 anak dan para pengasuh yang tinggal disana.
Sebenarnya yayasan ini menempati sebuah rumah yang cukup besar dan luas. Namun kami perhatikan, banyak ruangan yang tidak terpakai dan juga kurang terawat. Penerangannya pun sederhana, sehingga dibeberapa ruangan kelihatan gelap. Seorang ibu yang biasa berkunjung kesana mengungkapkan kalau rumah tersebut dulunya merupakan sebuah pabrik.
Tak terasa hampir satu jam kami berada disana, ngobrol sambil mencandai wajah-wajah mungil dan lucu. Tiga dari mereka masih berusia dibawah 1 tahun dan 6 anak lainnya berusia antara 2 sampai 3 tahun. Hhh Seandainya kami bisa memeluk dan memangku mereka lebih lama…
Saat pamitan pulang, ada bocah lelaki menghampiriku minta dicium. Padahal tadinya ia cuek dan pendiam. Ku kecup keningnya dan ia pun berlari sambil tersenyum. Saat perjalanan berlanjut ke Panti Asuhan berikutnya, aku masih mengingat percakapan terakhir kami dengan Gadis.
Ma, aku ikut ya!
Ikut kemana?
Ikut mama pulang sama Om (Diko, suami Tia) itu juga
Wah, nggak bisa, sayang Mama cium aja yah?
Cpokk! Sebuah ciuman mantap langsung mendarat dipipiku.
Bau , katanya.
Siapa yang bau?
Adis .
Wajahnya tersenyum manis dan ia lalu beralih, minta digendong oleh Tia dan mengantar kami sampai kedepan rumah.
Ah, Gadis semoga matahari selalu bersinar diwajahmu meski hidup tak seramah yang kau impikan.
PANTI ASUHAN MURNI JAYA
Panas terik udara di Cilincing siang itu menemani perjalanan kami. Setelah beristirahat sejenak dan mengisi perut dengan ayam bakar made-in Kramat Jaya yang murah, enak dan kenyang, kami menuju ke Panti Asuhan Murni Jaya. Walau tidak tercantum di peta, tapi tidak sulit menemukan tempat itu. Aku sempat meminta Tia untuk siap-siap karena bisa jadi tempat tersebut lebih parah dari Yayasan Amalia.
Benar saja, kami mendapati atmosfir yang sungguh berbeda. Panti Asuhan yang dikelola oleh Bapak Sutripno ini menampung 81 anak yang berusia balita hingga belasan tahun. 40 orang anak tinggal bersama dirumah tersebut sedangkan sisanya merupakan anak non-panti, artinya mereka tinggal dirumah kerabat yang masih ada namun mendapat subsidi dari PA Murni Jaya. Menurut penuturan Bu Sutripno, PA Murni Jaya sudah bediri sejak tahun 1970-an. Awalnya, ibu mertuanya yang ia sebut Mamak, berprofesi sebagai bidan dan seringkali menerima bayi-bayi yang tidak diambil oleh orang-tuanya sehingga beliaulah yang mengasuh bayi-bayi tersebut dirumahnya. Ketika Mamak meninggal dunia, beliau memberi warisan yaitu anak-anak panti tersebut kepada Pak Sutrisno sekeluarga untuk meneruskan mengasuh mereka.
Sulit membayangkan mereka dapat survive dengan kondisi yang ada. Kamar-kamar yang sempit, gelap dan pengap, kasur yang kumal dan kotor serta lemari pakaian yang sangat tidak layak (aku bahkan tidak berani bertanya ada isinya atau tidak). Kamar mandi hanya ada satu yang kami lihat, itupun sangat sempit. Melihat wajah anak-anak yang kotor dan dekil, aku sempat berpikir jangan-jangan anak anak itu jarang mandi. Pakaian yang mereka kenakan pun sudah tidak jelas warnanya. Sungguh memprihatinkan.
Lupakanlah susu atau mungkin makan 3x sehari. Buat mereka, asalkan bisa makan dan punya tempat untuk tidur, cukuplah. Berbeda dengan Yayasan Amalia, mereka tidak kelihatan kehilangan sosok orang-tua, terlihat lebih tangguh dan bisa menerima keadaan, mungkin juga karena jumlah mereka yang banyak dan anak yang lebih besar bertugas mengasuh adik-adik yang lebih kecil, hari-hari mereka kelihatan normal, bebas bermain layaknya anak-anak. Bu Sutripno juga menyekolahkan mereka, dari SD sampai SMP. Hebat, kan?
Tapi lihat, apa menu mereka siang itu. Saat ada anak yang sedang disuapi, aku mencoba mengintip menu makannya. Bukan karena lampu yang temaram sehingga pandanganku kabur, tapi dipiring itu yang terlihat hanya nasi dengan kuah sayur, entah mungkin lauknya sudah habis atau memang tidak ada. Waktu ngobrol dengan Bu Sutripno, aku sempat melirik lagi ke seorang anak usia 6 tahunan yang sedang memegang piring berisi selembar roti tawar. Dengan bantuan garpu, ia mengiris roti itu jadi potongan kecil-kecil. Satu suap untuk dirinya, satu suap untuk anak umur 3 tahun yang duduk didepannya. Terus bergantian dan tak sampai satu menit, piring itu kosong dan pesta mereka selesai.
Saat melongok ke sebuah kamar, kami mendapati seorang bayi lelaki berumur 3 minggu. Ibu si bayi adalah eks-penghuni panti yang menikah dengan seorang kuli bangunan. Karena tidak ada proyek, saaat ini si ayah tidak bekerja dan tentu saja, tidak punya penghasilan sehingga mereka terpaksa menumpang hidup kembali di PA Murni Jaya.
APA YANG MEREKA BUTUHKAN?
Apapun yang kita miliki saat ini.
- Waktu dan tenaga. Bergabunglah pada acara FM Charity I. Luangkan satu hari untuk memeluk dan memberi kasih sayang kepada mereka. Biarkan mereka sejenak merasakan sentuhan Mama-Papa.
- Uang. Rejeki berlebih yang kita sharing untuk mereka bisa menjadi berharga dan membantu meringankan kesulitan hidup mereka.
- Pakaian bekas yang layak pakai.
- Perlengkapan bayi, balita & anak yang layak pakai.
- Mainan, dll.
Hari ini, bersama mereka, kami seperti diajarkan untuk lebih memaknai hidup. Apa yang biasanya kami buang, ternyata bisa menjadi kemewahan untuk mereka. Kalau sebelumnya aku dengan mudah menghabiskan ratusan ribu untuk jalan-jalan dan makan di mall, aku harus ingat sepiring nasi yang hanya diisi kuah sayur yang mereka makan. Dengan menyimpan lembaran rupiah tersebut, mungkin akan ada satu hari dimana mereka bisa menikmati nasi dengan sepotong lauk.
Jadi teman-teman, jangan ragu lagi. Sukseskan acara FM Charity I. Mereka membutuhkan kita. Ayo, kita berikan apapun yang kita bisa, apapun yang kita miliki, meski kecil dan sederhana, akan sangat bermakna bagi mereka. Dana yang masuk akan kami teruskan dalam bentuk uang dan barang kebutuhan mereka sehari-hari. Penuh harapan, untuk bisa membuat mereka tersenyum.